Kembali ke READ
READ

Perpustakaan Tengah Malam

16 Februari 20263 menit baca
PTM

*Bisa jadi ada spoilernya

Buku ini mulai gue baca sekitar 2 bulan yang lalu, dan baru selesai sekitar 2 pekan yang lalu. Dengan estimasi perhitungan kemungkinan membacanya dalam sehari adalah 1:700 hehe.

Seperti yang ditulis di deskripsi tulisan ini. Buku ini nyeritain seorang perempuan dan Perpustakaan Tengah Malam yang dimaksud adalah sebuah tempat yang muncul pas perempuan tersebut mau bunuh diri. Jadi kalau ditulis ke persamaan maka akan seperti,

Hidup -> Perpustakaan Tengah Malam -> Mati -> Alam Barzah -> Akhirat (tapi di bukunya cuma hidup sampai mati saja, hehe)

Karena kata "Perempuan" terlalu panjang untuk ditulis, kedepannya gue pakai nama samaran aja dengan inisial, Roger—lah nama cowo. Eits, jangan salah, nama panjangnya Sri Roger dan ada binti nya, yang nandain kalau beliau adalah anak perempuan si fulan.

Oke lanjut. Nah, buku-buku yang ada di perpustakaan ini berisi semua kemungkinan kehidupan yang mungkin terjadi. Jadi setiap keputusan yang diambil oleh Roger di kehidupan akarnya, itu akan menghasilkan cabang baru di kehidupannya secara keseluruhan.

Misalnya, gue di kehidupan akar ini sedang nulis tulisan ini, nah kalau gue tadi mutusin buat nulis "gue di kehidupan akar ini sedang nulis tulisan ini, nah kalau gue memutuskan untuk tadi menulis..." maka ini akan menghasilkan cabang kehidupan baru di kehidupan gue secara keseluruhan, begitu juga kalau gue tadi mutusin nggak jadi nulis "gue di kehidupan akar ini sedang nulis tulisan ini, nah kalau gue memutuskan untuk tadi menulis..." juga akan menghasilkan cabang kehidupan baru di kehidupan gue secara keseluruhan. Fix, pasti pusing, hehe.

Gampangnya, keputusan "Iya" atau "Tidak" akan menghasilkan kehidupan yang baru. Nah, dalam kasus Roger, kehidupan dari setiap keputusan ini, direpresentasikan sebagai Buku. Kenapa buku? Karena buku adalah hal yang paling dekat dengan Roger, dan tempat yang berisi buku-buku adalah perpustakaan.

Tempat di antara "Hidup dan Mati" ini sebenarnya tergantung dari apa yang paling dekat dengan orang yang mengalaminya. Misalnya gue suka belajar main game, maka kejadian di antara hidup dan mati tersebut akan terjadi di tempat rental (perpustakaan) dan setiap kehidupannya direpresentasikan dalam bentuk video game (buku).

Jadi, Roger bisa menikmati setiap kehidupan yang seharusnya beliau alami di perpustakaan tersebut dengan membuka buku yang dipilih. Dengan tujuan untuk menghilangkan penyesalan yang ada di kehidupan akarnya.

Misalnya, di kehidupan akarnya beliau diberikan pilihan untuk meneruskan bakat renangnya atau tidak. Nah, pada kenyataannya beliau memilih "Tidak". Maka di perpustakaan tersebut akan ada buku yang berisi kehidupan beliau jika pada waktu itu beliau memilih untuk meneruskan bakat renangnya, sehingga akan ditemukan jawaban "Apakah beliau sebenarnya betul-betul/sebetulnya benar-benar menyesal atau tidak".

Ada sebuah kehidupan di mana Roger memutuskan untuk fokus pada bakat renangnya. Dan beliau berhasil menjadi seorang juara olimpiade, namun di kehidupan tersebut ayahnya telah meninggal. Ada kehidupan di mana beliau memutuskan fokus menjadi seorang musisi. Dan beliau populer, namun di kehidupan tersebut, kakaknya yang meninggal. Ada kehidupan di mana beliau menjadi seorang glasiolog, namun di kehidupan tersebut beliau memutus hubungan dengan keluarganya dan hampir mati.

Curangnya, ketika Roger hendak mencoba salah satu kehidupan, beliau tetap membawa ingatan dari kehidupan saat ini, sehingga setelah sampai ke kehidupan yang dicobanya, beliau harus beradaptasi terlebih dahulu sehingga akan menimbulkan banyak kesalahan dan kebingungan yang bisa berujung pada "Penyesalan" lagi. Padahal seharusnyamenurut gue, hehe—beliau aman-aman aja pas di kehidupan tersebut, namun karena membawa ingatan asalnya dan harus beradaptasi, jadi yang tadinya dianggap "Bisa diterima" menjadi sebaliknya. Ngerti ga? Gitu deh...

Singkat cerita Roger tidak jadi bunuh diri, karena beliau sudah mencoba seluruh kehidupan, dan menarik kesimpulan bahwa tidak ada kehidupan di mana tidak ditemukan penyesalan. Hingga pada akhirnya, perpustakaan tersebut hancur karena keinginan beliau untuk "Hidup" di kehidupan asalnya muncul lagi.

Dan terakhir...

PTM

ADA INDONESIA COYYY...

Dah. Semoga ketemu di tulisan lainnya. Semoga...

Yang Komen (0)

Login dengan Google untuk ikut ngomenin tulisan ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!